KERIKIL
KERIKIL
Oleh : Denny B. Roha
*)
Dia adalah bagian kecil dari sebuah bangunan yang kokoh
menjulang tinggi, ataupun bagian dari sebuah perjalanan panjang. Di bangunan
yang sombong berdiri, dia adalah bagian yang tidak penting sama sekali, bahkan
dia terjatuhpun, tidak ada yang peduli. Dalam bangunan itu, kalaupun dia ada
akan segera dicampakkan, agar kepongahan bangunan si juara satu tidak tercoreng
dengan kehadirannya.
Pencampakkan dirinya yang dianggap mengganggu keangkuhan
tinggi pongah bangunan, dianggap biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Dia
tercampak bercampur dengan kerikil-kerikil lain dan debu-debu jalanan.
Tergolek, menggelinding bahkan di tendang anak-anak kecilpun dia tak berdaya.
Semuanya tidak sadar, bangunan kokoh yang menjulang mencapai
langit, adalah berkat kumpulan-kumpulan kerikil kecil tadi. Dia adalah bagian
dari bangunan itu. Bangunan selesai, saatnya melakukan pembersihan dari
kerikil-kerikil dab debu-debu. Bagian kerikil yang terpisahkan dari
kumpulannya, merintih sedih dalam hatinya. Tak satupun bagian kerikil yang
menyatu meraih tangannya untuk ikut bersama. Tercampakkanlah ia.
Namun, nasib berkata lain. Sebutir kerikil hasil pembersihan
tadi, jika ia tercampak di kumpulan bebatuan, jadilah ia bagian dari itu. Jika
dia tercampakkan ke dalam sepatu sang pemilik bangunan yang kokoh tadi, ia akan
menjadi pengganggu setiap langkah si pemilik yang sombong itu berjalan. Ia
tidak mampu berjalan tegap membusungkan dada, karena sesekali kakinya melonjak
saat menginjak kerikil tadi, bibirnya meringis menahan rasa sakit. Si pemilik
duduk sebentar di singgasana kesombongannya, dibukanya sepatu yang terbuat dari
kulit asli, dicari sang kerikil pengganggu langkahnya. Tangannya masuk ke dalam
sepatu, merogoh, meraba untuk mengambil sang kerikil.
“Hap… dapat” gumam si pemilik yang sombong itu sambil
mengeluarkan tangannya. Jari telunjuk dan jempolnya menjepit kerikil kecil
tadi. Kecil memang, namun sangat mengganggu kesombongannya. Diambil, di
perhatikan dan kemudian dengan sedikit emosi, ia banting kerikil itu ke luar
jendela keangkuhan. Kerikil kembali terpelanting, terpental, dan menggelinding
dibawa nasib yang tidak mampu ia kuasai. Ia semakin pasrah setelah terpisahkan
dari kumpulannya saat bangunan angkuh itu didirikan.
Kerikil yang dicampakkan itu, terpenlating dan masuk ke
dalam kaleng milik pemancing ikan. Kerikil tidak tahu berada dimana, pemancing
juga tidak paham ada kerikil di dalam tempat umpan-umpan pancingnya.
Saatnya pemancing mengambil umpan untuk dipasangkan di ujung
kailnya, jemarinya menyentuh sebutir kerikil, dengan cekatan kerikil itu di
lempar ke laut, melayang dan ia tidak tahu harus berbuat apa, karena ia adalah
sebutir kerikil kecil.
Ia terus melayang dan tenggelam mengikuti berat tubuhnya
dalam air. Lalu terdampar di tempat yang sedikit empuk. Kerang-kerang yang
sedang membuka diri mencari makan, tak terasa kerikil kecil tadi jatuh di salah
satu kerang yang terbuka. Merasakan ada sesuatu yang menyentuh indra perasanya,
katup kerang itupun mengatup dan tertutup. Terkurunglah sang kerikil kecil di
dalamnya.
Ia tidak mampu bergerak di onggokan empuk penuh lendir.
Lendir-lendir itupun mulai menutupi sang kerikil. Mula-mula samar, lalu sama
sekali tertutup oleh berlapis-lapir lendir. Sudah dipastikan ia tidak akan
bergerak ke sana ke mari lagi karena dirinya sudah terikat lendir si kerang.
Entah berapa lama ia terkurung di dalam cangkang kerang. Bau
busuk sudah mulai menyengat, seiring dengan berkurangnya lendir yang berada di
sekitarnya, namun lendir yang menyelimutinya semakin kuat mengikatnya. Semakin
tak berdaya, ia hanya pasrah saja. Terasa kerang itu mulai bergoyang-goyang,
kadang-kadang terbanting, dan terhempas.
Ternyata petani kerang laut sedang menangguk kerang-kerang
laut. Kerang-kerang itu merupakan mata pencaharian petani kerang selain
menangkap ikan. Kerang-kerang di sortir, dipilih dan dipilah. Yang bagus masuk
ke dalam baskom yang sudah disiapkan, dan siap untuk dijual kepada masyarakat.
Yang jelek kembali masuk ke keranjang sampai. Kerikil tadi tidak tahu ia berada
dimana. Kerang yang tidak terpilih karena jelek, dibuang dan kemudian dipungut
oleh pemulung untuk diambil kulitnya, karena dagingnya sudah tidak mungkin lagi
jadi bahan makanan.
Eng… ing… eng… kerikil yang terperangkap dalam cangkang
kerang, merasakan cangkang kerang sedang dibuka paksa. Mula-mula gelap,
kemudian berobah menjadi terang namun samar. Cangkang kerang yang
memerangkapnya sudah dibuka. Pemulung terlonjak kaget, dipungutnya kerikil yang
berselaput lendir keras itu, diangkatnya seraya melonjak kegirangan. Sang
kerikil masih tidak mengerti.
Pemulung yang memungut kerikil berselaput lendir keras
itupun sujud syukur, seraya mengagungkan Kuasa Illahi. “Alhamdulillah…
Terimakasih ya Allah… terimakasih Engkau telah hadiahkan kepada hamba barang
berharga ini”. Sang kerikil semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Sebutir Mutiara Putih nan indah dicium-cium pemulung tadi.
Ia begitu girang, sambil membawa sebutir mutiara putih nan indah tadi ke
rumahnya. Istri pemulung begitu gembira dengan apa yang di bawa suaminya.
Matanya berbinar, ungkapan puji syukur pada Yang Maha Kuasa tak henti-hentinya
ia panjatkan.
Malam menjelang, seusai menunaikan shalat Isya, suami istri
pemulung itu kembali memperhatikan sebutir mutiara putih. “Indah sekali, ini
pasti mahal di beli orang”. Ujar sang istri. Si suami tidak menyahut, ia asyik
memperhatikan mutiara itu. “Pak… pak…”. Sang istri sedikit menjawil lengan
suaminya. “Eh iya mak, ada apa?” sahutnya. “Besok aku ikut ya menjualnya, uang
nya nanti kita belikan beras, dan baju ya pak”, harap si istri pada suaminya.
“Boleh, boleh kita bersama-sama menjualnya ke tauke di kecamatan. Sang istri
begitu senang mendengar jawaban suaminya. Kemudian ia merebahkan diri di tikar
yang sudah dibentangkan sedari tadi, lalu diikuti oleh suaminya. Tidak lupa ia
menyimpan sebutir mutiara yang sangat berharga itu di bawah alas kepalanya.
Pagi-pagi sekali, mereka sudah menyiapkan diri untuk
berangkat ke pusat kecamatan. Bekal makananpun ia siapkan, tidak lupa
menyiapkan sendal pemberian dari pak camat saat berkunjung ke lokasinya
memulung. Usai shalat subuh ia berangkat menuju pusat kecamatan.
Hampir menjelang tengah hari, ia sampai di pusat kecamatan.
Orang begitu ramai, para pedagang banyak bersorak menjajakan barang
dagangannya, mulai dari panci memasak, gelas-gelas plastik sampai pada kompor
minyak. Sepasang suami istri terus berjalan, tujuannya satu, yaitu rumah tauke
untuk menjual berlian.
“Selamat siang pak Tauke!” si suami sedikit berteriak di
teras rumah semi permanen. Dari dalam rumah, seseorang keluar dan menyambut
suami istri tadi. “Wa’alaikumsalam, eh si bapak mari mari silakan masuk”. Suami
istri tadi ternganga, ia lupa mengucapkan salam. “Eh.. Assalammu’alaikum pak
Tauke, maaf tadi lupa”. Buru-buru ia mengucapkan salam. “Iya enggak apa-apa.
Ada apa ya pak, bu”. Tanya si Tauke setelah keduanya duduk di lantai rumah
Tauke. “Bapak… Ibu… jangan duduk di lantai, hayo disini, di kursi. Kursi ini
disiapkan untuk duduk lho pak”. Ujarnya. Kemudian suami istri tadi duduk di sofa
yang empuk, belum pernah mereka merasakan duduk di sofa yang empuk selama ini.
“Ini lho pak Tauke, saya mau jual ini, kemaren waktu mulung
kerang, ee.. di dalam satu kerang saya temukan ini”, sambungnya sambil
menyodorkan sebutir mutiara putih ke tangan Tauke.
“Wow… Subhanallah. Betapa indahnya, apalagi kalau sudah di
poles akan lebih mengkilap lagi. Ini salah satu dari jenis mutiara yang terbaik
lho pak”. Si Tauke tadi menjelaskan, sambil tangannya mengangkat mutiara tadi
sejajar dengan matanya dan seperti menerawang mutiara itu.
“Ini mau bapak ibu jual?” tanya si Tauke lembut sekali.
“Benar pak Tauke, rencananya hasil penjualannya kami akan beli beras, baju, dan
beberapa peralatan dapur yang sudah rusak pak Tauke”. Jelas si bapak dengan
tanpa malu-malu. “Bukankah hasil menjual kulit kerang bisa beli beras pak? Ini
banyak lho duitnya”. Terang Tauke itu. “Jujur saya tidak tahu harganya pak
Tauke, silahkan pak Tauke sendiri yang menakar harganya, saya percaya pak Tauke
tidak akan membodohi kami”. Tutur sang suami dengan lugunya, disambung dengan
seulas senyum polos istrinya.
“Baik pak, ini saya beli dengan harga Tiga Juta Lima Ratus
Ribu Rupiah, tapi uangnya hanya sebagian yang saya berikan pada bapak dan ibu,
sisanya saya simpan, kapan bapak ibu mau ambil silahkan, ibarat menabung pak.
Ini saya lakukan karena ingin menyelamatkan bapak dan ibu. Uang sebanyak itu,
memancing orang untuk merampok bapak ibu. Bagaimana setuju?” Jelas si Tauke
kepada bapak dan ibu pemulung. Keduanya saling berpandangan, ada raut kecewa,
tapi selintas ada juga raut harapan. Akhirnya si bapak bersuara “Pak Tauke,
saya dan istri saya setuju saja dengan apa yang pak Tauke sampaikan. Tapi kami
tidak tahu berapa uang yang harus kami perlukan untuk membeli yang kami perlukan”. “Oh… begitu, tidak usah khawatir, bapak dan
ibu saya temani belanja, nanti saya yang akan bayar dari apa yang bapak ibu
beli, setelah semua selesai, sisanya nanti saya kasih tau dan akan saya
simpankan untuk bapak dan ibu”. Betapa senangnya hati sepasang pemulung tadi
mendengar penjelasan Tauke.
Kemudian mereka berjalan ke pasar, untuk melakukan
pembelanjaan keperluan hidup sepasang suami istri yang sudah menemukan sebutir
kerikil yang tidak berguna di bangunan sombong menjulang tinggi, namun dapat
memberi arti kehidupan bagi yang memerlukannya.
--Sawangan, Depok. Nopember 2017--
*) Guru Ekonomi SMAN 77 Jakarta
Komentar
Posting Komentar